Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Generasi Remote Control

Suatu kegiatan yang sudah menjadi rutinitas, artinya sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan, rutin dilakukan, semestinya kegiatan tersebut menjadi kegiatan yang mudah dan ringan untuk dikerjakan. Seperti upacara bendera hari Senin misalnya. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin, dimulai jam 07.00 atau menunggu kesiapan petugas upacara.
Idealnya setiap siswa sudah mengetahui apa yang harus dilakukan begitu bel tanda masuk jam 07.00 berbunyi. Prosedur standartnya tentulah akan seperti ini :
1. Berkemas mengenakan perlengkapan seragam, dasi, topi dll
2. Jika di dalam kelas, segera keluar kelas menuju lapangan upacara
3. Tiba di lapangan upacara, berbaris sesuai barisan kelasnya masing-masing
4. Siap mengikuti kegiatan upacara dengan tertib.


Namun yang terjadi dari hari Senin ke hari Senin berikutnya tiap bulan dan tahun adalah :
  1. Beberapa siswa masih menyandang dasi yang harusnya sudah dikenakan
  2. Siswa yang ada di dalam kelas bergerombol tidak segera keluar kelas, menunggu guru menyuruh keluar kelas
  3. Begitu keluar kelas, begitu guru yang menyuruh untuk keluar kelas berlalu, ke kelas lain, mereka bergerombol di depan kelas, tidak segera ke lapangan
  4. Sesampai di depan kelas, disuruh ke lapangan, dengan sama sekali tidak bersemangat baru berbondong ke lapangan.
  5. Di lapangan, sebagian masih duduk-duduk, ngobrol tidak segera berbaris, hingga ada komando dari guru untuk segera berbaris.
Demikianlah fenomena yang terjadi dari Senin ke Senin berikutnya, menjelang upacara bendera, yang menyita tak kurang dari 20 - 30 menit waktu. Jika diamati secara seksama, tak ubahnya sebuah mainan robot yang dikendalikan dengan remote control, yang tiap akan melakukan langkah atau gerakan menunggu diremote dari pemiliknya.

Tak hanya kegiatan upacara bendera, ternyata di hampir kegiatan yang lain ada kecenderungan siswa menunggu gurunya menekan tombol-tombol remote control untuk kemudian mereka melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan. Seperti kegiatan sholat berjama'ah, mulai dari menuju ke tempat wudhu, sesampai di tempat wudhu melepas sepatu, setelah melepas sepatu segera berwudhu, setelah berwudhu segera masuk mushola, di dalam mushola segera mengenakan peralatan sholatnya, nyaris semua langkah-langkah tersebut, menunggu siswa diperintah gurunya. Sampai pada kegiatan PBM, untuk menyiapkan atau mengeluarkan buku, atau mencatat hal-hal yang mungkin penting dan perlu dicatat, mereka terbiasa menunggu diremote oleh gurunya.

Tak heran dalam setiap kesempatan, sering saya sampaikan pada mereka kekhawatiran saya akan datangnya suatu masa ketika, sebuah generasi hanya akan mau bergerak jika tombol-tombol yang ada di remote control itu ditekan. Kesadaran melakukan hal-hal yang harus dilakukan tanpa menunggu perintah, ketrengginasan dalam melakukan sesuatu, tidak lelet atau lemot, memang perlu ditanamkan dan ... yang terpenting adalah, ... diberi contoh atau keteladanan kepada mereka. Tidak hanya menuntut, tanpa memberikan teladan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tepat waktu, susah ya ?

Sebuah sms dari teman luar kota datang pagi itu. Permintaan dukungan dan doa, karena akan mengikuti perlombaan. Satu setengah jam kemudian, datang lagi sms darinya. Kali ini isinya keluhan, undangan lomba jam 07.00 hingga sekarang jam 08.45, para juri belum datang. Tentu saja kegiatan belum bisa dilaksanakan.

Terlambat, .. ya, .. kondisi yang tak asing bagi kita. Hampir-hampir tak bisa kita jumpai kondisi suatu kegiatan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang tertulis di undangan atau yang direncanakan. Dan hal ini nyaris membudaya, ..  Sejauh pengalaman dalam rapat dinas yang pernah saya ikuti, tak sekalipun terlaksana persis pada saat seperti jam yang tertera di dalam undangan atau edaran yang disampaikan. Dan rentang waktu keterlambatan pun cukup panjang, berkisar antara 25 menit sampai 45 menit, kadang sampai 1 jam. Seperti kasus teman yang sms tadi, ketika pada akhirnya saya tanyakan, molor atau terlambat berapa jam, jawabnya : 2½ jam. Wow ... luar biasa ! Seakan melengkapi kisah keterlambatan teman tadi, pagi ini jam 08.00 saya mengundang sejumlah wali murid untuk membahas permasalahan yang dihadapi anak-anaknya, karena perlu keterlibatan Wali Kelas, maka ybs saya undang sehari sebelumnya. Namun hingga kegiatan pertemuan berlangsung dan hampir usai, wali kelas belum juga hadir. Dan ketika dihubungi via telepon, yang bersangkutan ... baru mau akan berangkat ke sekolah.

Kegiatan-kegiatan formal seperti workshop atau pelatihan saja tak luput dari virus "terlambat" ini, apalagi untuk kegiatan yang non-formal. Terlebih ketika suatu kegiatan dihadiri atau dibuka oleh pejabat penting atau pejabat yang merasa dirinya penting. Walah, ... ! Pernah ada kegiatan yang melibatkan langsung anak-anak balita, harus menunggu dan terlambat berjam-jam dari yang direncanakan, gara-gara pejabat yang bersangkutan belum datang. Bisa dibayangkan betapa risau dan gelisahnya anak-anak itu menunggu dengan kondisi berkostum yang aneh dan tidak lazim, seperti saat karnaval atau parade.
Kondisi memprihatinkan ini, menjadi jauh lebih memprihatinkan ketika terjadi di ranah pendidikan. Ketika sebuah kegiatan pembelajaran senantiasa diwarnai dengan keterlambatan kehadiran pengajar atau pendidiknya masuk kelas. Hal ini menjadi lebih parah ketika tingkat kedisiplinan siswanya juga rendah. Yang terjadi adalah ketidak teraturan, kesemrawutan, di mana para siswa berkeliaran ke sana ke mari, mengganggu kelas lain. Tak jarang terjadi hal-hal yang membahayakan siswa akibat ulah yang diperbuatnya di rentang waktu sesaat keterlambatan kedatangan gurunya ini. Bercanda berlebihan, hingga perkelahian.

Apapun alasannya, marilah kita coba berusaha untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal, kita rencanakan atau sudah menjadi rutinitas dengan tepat waktu dan tidak terlambat, sebagai salah satu tolok ukur kedisiplinan. Disiplin waktu.Terlebih bagi pendidik yang menjadi barometer keteladanan di sekolah.
Semoga.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karya Wisata 2013



Sabtu 26 Januari 2013, SMP Negeri 3 Bagor melaksanakan kegiatan Karya Wisata untuk kelas VII dan VIII, dengan tujuan Pantai Parangtritis, Keraton Yogjakarta, Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Rombongan berangkat pukul 22.00 sebanyak 4 bis. Sebelum keberangkatan dilaksanakan doa bersama dipimpin oleh Bapak Anang Dwijo Suryanto. Pak Ody Sarodi selaku Ketua Pelaksana sejak 3 hari sebelumnya sudah menyampaikan banyak hal terkait persiapan yang harus dibawa & dilaksanakan siswa. Namun ternyata banyak siswa yang abai akan hal ini. Seperti membawa peralatan sholat, membawa jaket karena bis ber-AC, dan juga agar siswa berhemat dalam pemakaian HP dan dalam membelanjakan uang saku. Banyak bahkan hampir semua anak perempuan tidak membawa mukena, sehingga dijadikan alasan konyol mereka tidak sholat.
Demikian juga dengan siswa laki-2. Hanya beberapa anak saja yang terlihat sholat pada saat waktu sholat tiba. Ketika berada dalam bis, banyak dari siswa yang merasa kedinginan karena ternyata tidak membawa jaket yang disarankan. Dan efek dari hal ini beberapa siswa mabuk kendaraan. Mungkin karena faktor dingin ini juga, yang menyebabkan ada beberapa siswa kelas VII A di Bis 2 yang merokok dan akhirnya tertangkap basah. Pada saat tiba di Parangtritis menjelang subuh, langit mendung. Terlihat jelas tanda-2 akan hujan. Banyaknya pedagang yang menjajakan dagangannya, membuat siswa-2 sudah cukup banyak membeli aneka barang dan suvenir di sini, seperti charger HP manual tanpa listrik, baju dsb. Bahkan ada siswa yg tergiur dengan sebuah pedang/golok seharga Rp. 100.000 yang berhasil ditawar Rp. 50.000. Pukul 05.20, rombongan menuju ke Pantai Parangtritis. Sekitar 30-40 menit di pantai, hujan turun dengan deras, mengguyur para pengunjung termasuk siswa2 SMPN 3 Bagor. Perjalanan dilanjutkan ke RM. NUMANI untuk sarapan dan ke Keraton. Sepanjang perjalanan hujan masih setia mengguyur. Di Keraton, cuaca sangat cerah meski masih ditingkah sedikit gerimis.
Rombongan menjelajah seluruh sudut Keraton dan mengagumi situs dan benda-2 peninggalan jaman dinasti Hamengku Buwono. Usai di Keraton perjalanan dilanjutkan ke Candi Borobudur, namun sebelumnya transit untuk makan siang di RM Sandy. Di kesempatan ini Pak Pardi dengan suara emasnya melantunkan sebuah lagu untuk para pengunjung. Tujuan terakhir wisata adalah Candi Prambanan yang diwarnai pembelian oleh-2 dan suvenir yang menurut pemandu wisata harganya paling murah di antara tempat-lainnya. Transit makan malam di RM Taman sari Solo. Jam 00.30 (setengah 1 dini hari) Alhamdulillah, rombongan tiba kembali di SMPN 3 Bagor, membawa sejumlah oleh-2, suvenir, kenangan dan juga tugas karya tulis yang harus segera dikerjakan. Beberapa anak sudah menyatakan dirinya ijin tidak masuk sekolah Senin 28 Januari 2013 karena merasa capek dan sakit.
Dan pagi harinya, ternyata hanya ada 4 siswa kelas VIII yang masuk, yakni Jumadi, Atik, Yulianto (VIIIA), Nuryani (VIIIB), dan 3 siswa kelas VII yang masuk yakni Atikah (VIIB), Ngatini (VIIC), dan Alfina (VIID). Dan pukul 09.15 pun siswa kelas VII, VIII, IX dipulangkan karena sedari awal tidak ada kegiatan pembelajaran.




28 Januari 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sholat Gitu Loh !

Hati ini prihatin dengan kondisi anak-anak didik yang kurang peduli atau abai dengan ibadah sholat, ibadah wajib lima kali sehari semalam bagi umat Islam, bagi yang sudah baligh.
Saat menjadi Penguji dalam Ujian Sekolah Praktik, untuk Mata Pelajaran Agama Islam, Praktik Sholat Wajib Lima Waktu,.. saat wawancara jelang ujian dan saat ujian, dari seluruh siswa yang menjadi responden di hari pertama, yang telah melaksanakan sholat lima waktu secara tertib hanya 10,5%. Atau hanya 2 anak dari 19 anak.
Yang lain secara jujur menjawab belum melaksanakan sholat secara tertib. Akibatnya bisa ditebak, saat ujian praktik sholat, mereka kelimpungan harus menghapal doa-doa dan bacaan sholat. Dikarenakan waktu yang relatif sedikit, maka banyak siswa yang tidak hapal doa dan bacaan sholat.

Seandainya mereka tahu, seandainya mereka sadar, bahwa sholat adalah kebutuhan manusia, bukan kewajiban, .. okelah sementara kewajiban saja dulu, .. dan kemudian mereka dengan penuh rasa tanggung jawab melaksanakan kewajiban tersebut, maka tentunya hal seperti ini tak akan terjadi. Tak akan ada siswa yang stress menghadapi ujian praktik sholat karena tidak bisa sholat ! Tidak hapal bacaan dan gerakannya. Karena sejatinya hal itu sudah dilakukan rutin setiap hari. "Apa yang terjadi seandainya ujian praktiknya adalah praktik makan ? Tentu kalian akan dengan sangat mudah dan ringan melaksanakannya, tidak perlu persiapan apapun ! Karena itu sudah merupakan sesuatu yang tiap hari kalian lakukan ! Demikian juga dengan sholat." Begitu tiap kali saya sampaikan ke anak-anak.

 
Dan untuk menanamkam kebiasaan sholat lima waktu ini, untuk kelas VIII saya berikan satu buku monitoring, di mana siswa mencatat sholat yang dilaksanakan setiap hari. Dan pada saat pertemuan jam BK, buku tersebut saya periksa. Alhamdulillah, dari catatan ini menunjukkan sudah cukup banyak siswa yang telah melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam. Unsur kejujuran siswa dan kepercayaan Konselor sangat menonjol dalam proses penguasaan konten ini.
 

  • Digg

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujian Nasional SMPN 3 Bagor Dalam Ikhtiar dan Doa

Waktu kian mendekat ke saat pelaksanaan Ujian Nasional. Seperti tamu agung, tamu penting, yang harus dijamu dan dihadapi dengan segala pelayanan terbaik untuk menghormatinya. Demikian juga dengan Ujian Nasional. Gawe besar yang sangat menentukan berhasil tidaknya kelas IX SMPN 3 Bagor dalam menempuh studi selama 3 tahun ini, juga disambut dengan segala hingar bingar penuh semangat dan motivasi.
Berbagai upaya dilaksanakan dalam rangka membekali siswa untuk lebih siap dan fight dalam menghadapi Ujian Nasional. Tambahan pelajaran ( LES ) yang telah dimulai tiga empat bulan sebelumnya, Try Out yang dilaksanakan hingga 3 kali. Pemantapan materi Mapel Emas Unas, dua minggu menjelang Ujian Nasional, yang  terpaksa harus mengorbankan adik-adik kelas VII dan VIII. Akibat keterbatasan Guru, sehingga pada saat yang sama Guru Mapel Nas mengajar di kelas VII atau VIII, sekaligus mengajar kelas IX.  Dan tentu saja adik-adik kelas harus mengalah pada kakaknya. Upaya spiritual sholat dhuha rutin terjadwal per kelas yang dilaksanakan setelah jam pelajaran pemantapan, sampai dengan Istighosah, dilakukan untuk lebih memberikan persiapan yang matang pada siswa menghadapi Ujian. Beberapa siswa berkunjung ke SD nya dulu, untuk mohon restu pada Bapak Ibu Guru SD.
Setelah Ikhtiar dan doa dilaksanakan, dan saat pelaksanaan ujian tiba, maka yang bisa dilakukan hanyalah berusaha menghadapi ujian dengan sebaik-baiknya. Seoptimal mungkin, all out. Ibarat seorang pendekar ketika berlaga maka mengeluarkan segala kemampuan dan jurus yang dimilikinya. Tapi anak-anakku semua, kalian tetap harus menghadapinya dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Hindari menghalalkan segala cara dalam mencapai apapun tujuan kalian. Hindari kecurangan, walaupun mungkin itu dianjurkan oleh gurumu sekalipun. Pegang  teguh prinsip KEJUJURAN, PERCAYA DIRI DAN MANDIRI yang selama ini telah Pak Anang canangkan dan doktrinkan pada kalian. Ingat juga motto Ujian Nasional tahun ini JUJUR BERPRESTASI !
Nah, .. setelah Persiapan kalian lakukan, Ujian Nasional telah kalian hadapi dan laksanakan, maka langkah terakhir kalian adalah TAWAKKAL kepada Allah, apapun hasilnya. Jika sesuai harapan kalian BERSYUKURLAH. Bila kalian gagal, BERSABARLAH. Ingat, .. kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Susun kembali rencana dan langkah ke depan. Jangan berlarut dalam kesedian dan putus asa, karena sangat dilarang oleh Allah.  Tahukah kalian, Thomas Alfa Edison berhasil menciptakan lampu listrik yang sangat spektakuler dan bermanfaat ini setelah gagal ribuan kali dalam percobaan.
Terakhir,.. semoga pelaksanaan Ujian Nasional di SMPN 3 Bagor tahun ini berjalan lancar dan sukses ! Sukses pelaksanaannya, dan sukses hasilnya. 100% LULUS bagi kalian !

SELAMAT BERJUANG ANAK-ANAKKU !
KAMI YAKIN KALIAN MAMPU. DAN BISA !

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perbaikan Gedung Sekolah

Tahun ini sekolah kita tercinta, SMP Negeri 3 Bagor mendapatkan bantuan perbaikan Gedung Sekolah. Kondisi gedung yang cukup memprihatinkan dan membahayakan bagi keselamatan siswa untuk tempat kegiatan belajar di sekolah memang sudah selayaknya untuk segera diperbaiki. Karena itu kita sangat bersyukur mendapatkan bantuan ini.
Adapun gedung yang mendapatkan alokasi untuk perbaikan adalah ruang kelas VII A, B, dan C. Karena ada perbaikan inilah maka ruang belajar bagi ketiga kelas tersebut dipindah ke Ruang Laboratorium IPA, Ruang Ketrampilan dan Ruang Komputer. Mengingat ruang darurat yang digunakan kelas sementara ini, di dalamnya terdapat peralatan-peralatan seperti peralatan Lab. IPA dan  juga beberapa mesin jahit, maka diharapkan para siswa kelas VII yang menempati ruang tersebut turut menjaga dan merawat peralatan-peralatan tersebut. Dan mohon tidak menggunakannya untuk sarana bermain-main.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tentang Motivasimu Nak ..

Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang yang memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang dengan sungguh-sungguh, tekun.
Berkaitan dengan motivasi ini, marilah anak-anak sekalian mengkaji bagaimana motivasi kalian untuk sekolah, untuk belajar di SMP Negeri 3 Bagor ini. Tujuan apa yang ingin kalian capai dengan bersekolah di sini. Tentunya kalian ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, mendapatkan pendidikan akhlak budi pekerti yang mulia, pintar dan pandai, yang kesemuanya akan mengantarkan kalian pada kesuksesan hidup. Baik sukses hidup di dunia ini maupun di akherat kelak. Pertanyaannya sekarang, menurut kalian apakah tujuan kalian itu mulia ? Apakah tujuan kalian itu besar dan luar biasa ? Jika jawaban kalian "YA", maka tentu tak layak jika untuk mencapai tujuan yang besar, luar biasa dan mulia itu yang kalian lakukan hanya asal-asalan, tidak bersemangat, tidak tekun, dan tidak dengan motivasi yang tinggi. Tujuan dan cita-cita yang besar hanya bisa dicapai dengan semangat, motivasi, ketekunan dan kedisiplinan yang tinggi.
Dan motivasi yang ideal itu adalah ketika motivasi itu berasal dari dalam dirimu sendiri. Bukan karena paksaan orang tuamu, bukan karena rasa takut pada orang tua atau gurumu. Atau bukan juga karena ancaman hukuman. Melainkan karena semata-mata kalian menyadari akan kebutuhan tujuan yang ingin kalian capai itu. Lalu apakah dengan contoh-contoh gambar di bawah ini sudah menggambarkan tingginya motivasi kalian ?

Masih banyaknya siswa terutama kelas IX yang terlambat masuk kelas atau LES. Meskipun bel tanda masuk sudah berbunyi beberapa menit sebelumnya, ternyata masih banyak siswa yang belum hadir.

 Siswa terlambat




Sering dan banyaknya siswa diberi sanksi karena tidak tertib atau tidak mengerjakan PR. 
Atau yang tidur di kelas …

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sholat Gitu Loh !

Hati ini prihatin dengan kondisi anak-anak didik yang kurang peduli atau abai dengan ibadah sholat, ibadah wajib lima kali sehari semalam bagi umat Islam, bagi yang sudah baligh.
Saat menjadi Penguji dalam Ujian Sekolah Praktik, untuk Mata Pelajaran Agama Islam, Praktik Sholat Wajib Lima Waktu,.. saat wawancara jelang ujian dan saat ujian, dari seluruh siswa yang menjadi responden di hari pertama, yang telah melaksanakan sholat lima waktu secara tertib hanya 10,5%. Atau hanya 2 anak dari 19 anak.
Yang lain secara jujur menjawab belum melaksanakan sholat secara tertib. Akibatnya bisa ditebak, saat ujian praktik sholat, mereka kelimpungan harus menghapal doa-doa dan bacaan sholat. Dikarenakan waktu yang relatif sedikit, maka banyak siswa yang tidak hapal doa dan bacaan sholat.

Seandainya mereka tahu, seandainya mereka sadar, bahwa sholat adalah kebutuhan manusia, bukan kewajiban, .. okelah sementara kewajiban saja dulu, .. dan kemudian mereka dengan penuh rasa tanggung jawab melaksanakan kewajiban tersebut, maka tentunya hal seperti ini tak akan terjadi. Tak akan ada siswa yang stress menghadapi ujian praktik sholat karena tidak bisa sholat ! Tidak hapal bacaan dan gerakannya. Karena sejatinya hal itu sudah dilakukan rutin setiap hari. "Apa yang terjadi seandainya ujian praktiknya adalah praktik makan ? Tentu kalian akan dengan sangat mudah dan ringan melaksanakannya, tidak perlu persiapan apapun ! Karena itu sudah merupakan sesuatu yang tiap hari kalian lakukan ! Demikian juga dengan sholat." Begitu tiap kali saya sampaikan ke anak-anak.

 

Dan untuk menanamkam kebiasaan sholat lima waktu ini, untuk kelas VIII saya berikan satu buku monitoring, di mana siswa mencatat sholat yang dilaksanakan setiap hari. Dan pada saat pertemuan jam BK, buku tersebut saya periksa. Alhamdulillah, dari catatan ini menunjukkan sudah cukup banyak siswa yang telah melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam. Unsur kejujuran siswa dan kepercayaan Konselor sangat menonjol dalam proses penguasaan konten ini.

 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bimbingan Konseling

Foto saya
Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
VISI : Terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian secara optimal dengan hakekat kemanusiaannya sebagai hamba Allah SWT, sebagai makhluk individu, dan makhluk sosial dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta. Misi : Menunjang perkembangan diri dan kemandirian siswa untuk dapat menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai siswa secara efektif, kreatif, dan dinamis serta memiliki kecakapan hidup untuk masa depan karis dalam : 1.Pemahaman perkembangan diri dan lingkungan 2.Beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT 3.Pengarahan diri ke arah dimensi spiritual 4.Pengambilan keputusan berdasarkan IQ, EQ, dan SQ 5.Pengaktualisasian diri secara optimal
Anang Dwijo Suryanto. Diberdayakan oleh Blogger.