Generasi Remote Control

Suatu kegiatan yang sudah menjadi rutinitas, artinya sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan, rutin dilakukan, semestinya kegiatan tersebut menjadi kegiatan yang mudah dan ringan untuk dikerjakan. Seperti upacara bendera hari Senin misalnya. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin, dimulai jam 07.00 atau menunggu kesiapan petugas upacara.
Idealnya setiap siswa sudah mengetahui apa yang harus dilakukan begitu bel tanda masuk jam 07.00 berbunyi. Prosedur standartnya tentulah akan seperti ini :
1. Berkemas mengenakan perlengkapan seragam, dasi, topi dll
2. Jika di dalam kelas, segera keluar kelas menuju lapangan upacara
3. Tiba di lapangan upacara, berbaris sesuai barisan kelasnya masing-masing
4. Siap mengikuti kegiatan upacara dengan tertib.


Namun yang terjadi dari hari Senin ke hari Senin berikutnya tiap bulan dan tahun adalah :
  1. Beberapa siswa masih menyandang dasi yang harusnya sudah dikenakan
  2. Siswa yang ada di dalam kelas bergerombol tidak segera keluar kelas, menunggu guru menyuruh keluar kelas
  3. Begitu keluar kelas, begitu guru yang menyuruh untuk keluar kelas berlalu, ke kelas lain, mereka bergerombol di depan kelas, tidak segera ke lapangan
  4. Sesampai di depan kelas, disuruh ke lapangan, dengan sama sekali tidak bersemangat baru berbondong ke lapangan.
  5. Di lapangan, sebagian masih duduk-duduk, ngobrol tidak segera berbaris, hingga ada komando dari guru untuk segera berbaris.
Demikianlah fenomena yang terjadi dari Senin ke Senin berikutnya, menjelang upacara bendera, yang menyita tak kurang dari 20 - 30 menit waktu. Jika diamati secara seksama, tak ubahnya sebuah mainan robot yang dikendalikan dengan remote control, yang tiap akan melakukan langkah atau gerakan menunggu diremote dari pemiliknya.

Tak hanya kegiatan upacara bendera, ternyata di hampir kegiatan yang lain ada kecenderungan siswa menunggu gurunya menekan tombol-tombol remote control untuk kemudian mereka melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan. Seperti kegiatan sholat berjama'ah, mulai dari menuju ke tempat wudhu, sesampai di tempat wudhu melepas sepatu, setelah melepas sepatu segera berwudhu, setelah berwudhu segera masuk mushola, di dalam mushola segera mengenakan peralatan sholatnya, nyaris semua langkah-langkah tersebut, menunggu siswa diperintah gurunya. Sampai pada kegiatan PBM, untuk menyiapkan atau mengeluarkan buku, atau mencatat hal-hal yang mungkin penting dan perlu dicatat, mereka terbiasa menunggu diremote oleh gurunya.

Tak heran dalam setiap kesempatan, sering saya sampaikan pada mereka kekhawatiran saya akan datangnya suatu masa ketika, sebuah generasi hanya akan mau bergerak jika tombol-tombol yang ada di remote control itu ditekan. Kesadaran melakukan hal-hal yang harus dilakukan tanpa menunggu perintah, ketrengginasan dalam melakukan sesuatu, tidak lelet atau lemot, memang perlu ditanamkan dan ... yang terpenting adalah, ... diberi contoh atau keteladanan kepada mereka. Tidak hanya menuntut, tanpa memberikan teladan.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

4 komentar:

Topics mengatakan...

om tolong remote aq tuk segenar "menjemput" anak orang hehe

Anang Dwijo Suryanto mengatakan...

Lha remote nya dibawa Mas Topek, ... Pakai remote saya apa bisa Mas Topek ? ... he he he ...

OUTBOUND DI MALANG mengatakan...

mantab gan infonya :)
salam kenal Outbound di Malang


http://www.nolimitadventure.com/

MHI mengatakan...

Subhanallah,
bener banget nih *pak guru? :D
sebenarnya ishma juga ga jarang bersifat seperti apa yang dikatakan di atas. Jadi semangat untuk memperbaiki diri untuk tidak menjadi generasi remote control :)
BTW, mohon maaf lahir dan batin ya

Posting Komentar

Bimbingan Konseling

Foto saya
Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
VISI : Terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian secara optimal dengan hakekat kemanusiaannya sebagai hamba Allah SWT, sebagai makhluk individu, dan makhluk sosial dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta. Misi : Menunjang perkembangan diri dan kemandirian siswa untuk dapat menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai siswa secara efektif, kreatif, dan dinamis serta memiliki kecakapan hidup untuk masa depan karis dalam : 1.Pemahaman perkembangan diri dan lingkungan 2.Beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT 3.Pengarahan diri ke arah dimensi spiritual 4.Pengambilan keputusan berdasarkan IQ, EQ, dan SQ 5.Pengaktualisasian diri secara optimal
Anang Dwijo Suryanto. Diberdayakan oleh Blogger.